Sabtu, 12 November 2016

Dilema Dompet dan Wajah Preman

Sebagai salah satu pengurus mushola di tempat saya tinggal, saya di minta untuk membeli sejumlah sejadah di tanah abang.

Seketika itu sangat ingat bahwa ada teman saya yang memiliki toko di tanah abang. Lantas saya mengontaknya
Singkatnya saya dapat sejadah dengan harga yang bisa di bilang murah berkat bantuan dia

Agar mudah membawa pulangnya nanti, saya mengajak Joni. Pemuda di dekat rumah saya tinggal. Orang yang tinggi, dengan kulit hitam.pasti cocok jadi " bodyguard" saya belanja

Sampai disana teryata jalan sangat macet. Dan banyak parkiran pinggir jalan yang penuh. Jadi saya memutuskan agar joni menunggu diluar dan saya masuk sendirian mengingat pasti tidak makan waktu yang lama karena sudah " deal-deal" lewat sms

Sekitar setengah jam saya keluar dan mendapati joni sudah di kepung oleh beberapa orang yang terlihat sedang kesal

Saya cepat-cepat menghampiri dan bertanya ada apa

Salah pemuda disana mengatakan kalau joni di tuduh mencopet ibu yang sedang belanaja

" udah gebukin aja biar ngaku.." teriak orang yang dari tadi sudah terlihat kesal sambil memegang balok kayu

"Bukan gue yanng ambil, orang saya lagi duduk ntu ibu duduk disamping dan tau tau bilang dompetnya ilang.." bantah joni

"Tadi ada sebelumnya, terus sekarang gak ada pas kamu duduk disamping saya.." ibu itu melanjutkan

Suasana makin panas karena kondisi jalan yang macet.makin banyak orang yang menonton kemudian sontak ingin ikut menghakimi joni

Kami bertiga berada ditengah krumunan massa, mengingat saya memakai baju koko dengan peci. Pemuda masih menahan diri

 Joni berkulit hitam, memakai kaos dan celana sobek di bagian dengkul.  Banyak yang langsung menilai joni kriminal pasar

Joni tetap membantah tidak mengambil, namun ibu tadi tetap ngotot karena sebelum duduk disana donpetnya masih ada

"Jika gak mau ngaku. Saya panggil saudara saya yang di polsek tanah abang.." teriak ibu dengan mata melotot.
Makin membuat massa makin ramai

Saya coba menengahi dengan bertanya kronologinya. Tapi karena suasan terlanjur panas, sang ibu hanya bilang temen kamu itu cepetan suruh ngaku

Dari belakang mulai ada yang memukul kepala joni sesekali, namun ada yang tetap menahan juga

Dan keadaan saat ada seorang perempuan  menyelinap ketengah kerumunan, tempat saya berada sambil membawa tas kecil

" bu akhirnya ketemu juga.." sambil berusaha tegak berdiri karena berdesakan

"Loh.ada apa mir?", sahut ibu itu
"Ini dompet ibu jatuh depat pintu, saya di suruh anterin sama non siska.." lanjut kembali wanita muda itu

Seketika kami semua melihat ke arah wanita itu tanpa bicara

Saya hanya bisa mengambil kesimpilan kalau ibu tadi meninggalkan dompetnya dirumah dan baru sadar saat duduk di sebelah joni

Joni marah bukan main karena kesalah si ibu
"Nah. Ini ada dompetnya dirumah lu, kenapa nuduh gue??" tanya joni dengan muka merah
"Ia maaf ya. Saya khilaf .." jawab sang ibu dengan wajah polos

"Saya gk keterima, saya hampir di pukulin.."
Teriak joni sambil memegang tangan si ibu..
Dan tangan satunya seperti ingin menampar

Dan saat joni ingin menampar

Mama gue bangunin, sambil bilang..
"Lu mw kerja gk, udah jam 8, jangan mimpi mulu..."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar